Tampilkan postingan dengan label dowload lagu indonesia gratis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dowload lagu indonesia gratis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Februari 2011

Dede Harris, balada dan kritik sosial


Dede Harris adalah pemusik yang tidak asing bagi penggemar musik di Kota Bandung era 80-an. Ia sering tampil di kampus-kampus dan berbagai panggung yang diadakan para aktivis mahasiswa yang memprotes berbagai kebijakan penguasa orde baru.

Selain piawai menulis lagu bertema kritik sosial, Dede Harris juga pemain gitar yang baik. Maka masuk akal kalau ia disebut-sebut sebagai salah satu guru bermusiknya Iwan Fals. Kemahirannya bermain gitar juga teruji dari kemampuan tangan kidalnya memainkan gitar standar tanpa mengubah susunan senarnya. Penyanyi yang juga berprofesi sebagai pengacara ini sempat banyak menyuarakan lagu-lagunya pada masa reformasi 1998, sebelum meninggal dunia pada Februari tahun berikutnya.

Hingga kini lagu-lagunya masih banyak dibawakan kembali dalam berbagai even oleh para pemusik Bandung, antara lain Hijrah, Demi Mimpi Mimpi, Anak Merdeka, Tsiang Tse, dan Bicara Bagus.

Senin, 03 Januari 2011

Hari Moekti, Si Kutu Loncat


Pada pertengahan 80-an, blantika musik tanah air dilengkapi dengan kehadiran Hari Moekti. Sebetulnya ia bukan pendatang baru. Sebelumnya penyanyi yang dijuluki Si Kutu Loncat ini dikenal sebagai personil Makara Band.

Karir bermusik Hari Moekti dapat dikatakan berjalan cepat. Sebelum terkenal sebagai vokalis Makara ia membentuk band di Semarang bersama teman-temannya. Namanya Darodox (dari Bahasa Sunda darokdok atau gemetar). Tapi setelah ayahnya meninggal dunia, penyanyi kelahiran Cimahi ini hijrah kembali ke Bandung dan sempat membentuk Primas band dan New Bloodly band. Tidak lama setelah itu Hari mencoba mengadu keberuntungan di Jakarta dengan bergabung dalam Makara yang dibentuk oleh beberapa anak UI. Hari sempat bertahan 4 tahun di Makara sebelum bergabung dengan Krakatau Band tahun 1985. Kemudian ia memilih bersolo karier. Album solonya Ada Kamu disukai publik. Bukan hanya Ada Kamu yang memang dijadikan andalan, beberapa lagu lain juga melejit di pasaran dan merajai chart atau tangga lagu Indonesia di Radio di Jakarta, seperti JJS Melawai dan Rona Bis Kota. Tapi lagunya yang lain seperti Tantangan, Apel Pertama, dan Nona Nona Nona juga banyak disukai.

Keberhasilan Hari Moekti tentu saja tidak terlepas dari tangan dingin sejumlah musisi, diantara Billy JB, Youngky Soewarno dan Dwiky Darmawan. Dalam olahan musik Pop-Rock, Hari Moekti menjadi lebih berkarakter. Kemampuan vokal dalam nada tinggi yang stabil, dipadu dengan nada lambat yang konstan menjadikan setiap lagu Hari Moekti enak didengar. Inilah yang menjadi salah satu nilai lebih vokal Hari, dimana nada dalam tempo lambat, namun Hari tetap menyanyikan dengan berteriak dan tetap pas dinikmati.

Diakhir karirnya sebagai penyanyi, Hari Moekti sempat membuat band bernama ADEGAN bersama dengan Gilang Ramadhan dan Indra Lesmana, dan melejitkan lagu Hanya Satu Kata. Kini Hari Moekti memilih berdakwah sebagai jalan hidupnya.

Enhanced by Zemanta

Senin, 18 Oktober 2010

Iwan Fals, sang pengelana jalanan



Bicara lagu Indonesia 80-an tidak akan afdol tanpa menyinggung penyanyi bernama lengkap Virgiawan Listanto ini. Sejak kemunculannya pertama kali ia dikenal dengan lagu-lagunya yang bernuansa humor satir seperti Oemar Bakri, Surat Buat Wakil Rakyat, atau Sugali. Ia juga menulis dengan bagus peristiwa dan tokoh seperti pada Ethiopia, 1910, Ibu, dan Bung Hatta. Sementara lagu-lagu cintanya pun terdengar berbeda dibandingkan dengan lagu-lagu cinta pada masa itu. Tengok saja lagu Buku Ini Aku Pinjam, Aku Sayang Kamu, atau Yang Terlupakan.

Lagu-lagu Iwan Fals akrab di telinga. Kita bisa temui di arena demo mahasiswa karena lirik kritisnya masih up to date untuk dikumandangkan di masa bahkan jauh setelah lagu-lagu itu populer untuk pertama kalinya. Lagu-lagunya juga sering kita jumpai di terminal-terminal atau kendaraan umum dibawakan oleh penyanyi jalanan alias pengamen. Barangkali karena karena pengalamannya menjadi orang jalananlah yang menjadikannya semacam patron bagi para pengamen. Iwan mengaku dibesarkan di jalanan. Ia ngamen sejak masih sekolah di bangku SMA Bandung, dari rumah ke rumah, dari restoran ke restoran, dari warung tenda ke warung tenda, dari pasar ke pasar. Berbekal gitar dan harmonika ia mengamen tak pilih-pilih tempat. Dilarang keras mengamen oleh kedua orang tuanya, Iwan jalan terus bahkan ketika ia sudah sukses menjadi penyanyi. Ia baru berhenti mengamen ketika anak keduanya ,Cikal Rambu Basae lahir tahun 1985.

Pada periode 80-an Iwan Fals terhitung produktif. Tiap tahun ia mengeluarkan album bahkan ada yang lebih dari satu album. Mulai dari Opini (1982), Wakil Rakyat (1982), Sumbang (1983), Barang Antik (1984), Sugali (1984), Sore Tugu Pancoran (1985), Tampomas, Nenekku Okem, Ethiopia (1986), Aku Sayang Kamu (1986), Lancar (1987), 1910 (1988) hit Buku Ini Aku Pinjam, Antara Aku dan Bekas Pacarmu (1989), Mata Dewa (1989). Selain itu ia juga berkolaborasi dengan penyanyi dan musisi lain seperti KPJ (Kelompok Penyanyi Jalanan), Swami, dan Kantata. Ia juga sempat membuat rekaman bersama Jockie Suryoprayoga dan Vina Panduwinata serta bersama Rafika Duri.


Lihat juga yang ini: 22 Januari (Sarjana Muda-1981)