Tampilkan postingan dengan label lagu indonesia 80an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lagu indonesia 80an. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Januari 2011

Hari Moekti, Si Kutu Loncat


Pada pertengahan 80-an, blantika musik tanah air dilengkapi dengan kehadiran Hari Moekti. Sebetulnya ia bukan pendatang baru. Sebelumnya penyanyi yang dijuluki Si Kutu Loncat ini dikenal sebagai personil Makara Band.

Karir bermusik Hari Moekti dapat dikatakan berjalan cepat. Sebelum terkenal sebagai vokalis Makara ia membentuk band di Semarang bersama teman-temannya. Namanya Darodox (dari Bahasa Sunda darokdok atau gemetar). Tapi setelah ayahnya meninggal dunia, penyanyi kelahiran Cimahi ini hijrah kembali ke Bandung dan sempat membentuk Primas band dan New Bloodly band. Tidak lama setelah itu Hari mencoba mengadu keberuntungan di Jakarta dengan bergabung dalam Makara yang dibentuk oleh beberapa anak UI. Hari sempat bertahan 4 tahun di Makara sebelum bergabung dengan Krakatau Band tahun 1985. Kemudian ia memilih bersolo karier. Album solonya Ada Kamu disukai publik. Bukan hanya Ada Kamu yang memang dijadikan andalan, beberapa lagu lain juga melejit di pasaran dan merajai chart atau tangga lagu Indonesia di Radio di Jakarta, seperti JJS Melawai dan Rona Bis Kota. Tapi lagunya yang lain seperti Tantangan, Apel Pertama, dan Nona Nona Nona juga banyak disukai.

Keberhasilan Hari Moekti tentu saja tidak terlepas dari tangan dingin sejumlah musisi, diantara Billy JB, Youngky Soewarno dan Dwiky Darmawan. Dalam olahan musik Pop-Rock, Hari Moekti menjadi lebih berkarakter. Kemampuan vokal dalam nada tinggi yang stabil, dipadu dengan nada lambat yang konstan menjadikan setiap lagu Hari Moekti enak didengar. Inilah yang menjadi salah satu nilai lebih vokal Hari, dimana nada dalam tempo lambat, namun Hari tetap menyanyikan dengan berteriak dan tetap pas dinikmati.

Diakhir karirnya sebagai penyanyi, Hari Moekti sempat membuat band bernama ADEGAN bersama dengan Gilang Ramadhan dan Indra Lesmana, dan melejitkan lagu Hanya Satu Kata. Kini Hari Moekti memilih berdakwah sebagai jalan hidupnya.

Enhanced by Zemanta

Senin, 15 November 2010

Nicky Astria, Sang Lady Rocker

Nicky Astria mengawali karir bermusiknya di blantika musik nasional pada usia 17 tahun. Namun lewat album pertamanya yang bertajuk Semua Dari Cinta tersebut Nicky belum mampu menembus minat pecinta musik tanah air. Meski demikian album inilah yang mempertemukan perempuan bernama lengkap Nicky Nastitie Karya Dewi ini dengan musisi rock tanah air seperti Ian Antono, Jelly Tobing, dan Dodo Zakaria.

Lewat tangan-tangan ajaib merekalah kemampuan Nicky terasah hingga menelorkan album keduanya: Jarum Neraka pada tahun 1985. Lewat album dengan penata musik Ian Antono inilah Nicky mulai dikenal publik sebagai lady rocker, menambah jumlah penyanyi rock perempuan yang sudah dikenal sebelumnya yakni Euis Darliah, Renny Jayusman dan Sylvia Sartje. Nicky yang ketika itu paling muda, dengan karakter vokal yang kuat, dan di bawah garapan Ian Antono, jadilah mojang Bandung ini kemudian merajai blantika musik tanah air pada era Indonesia 80-an itu.

Lagu apa saja yang Anda suka dari si teteh ini? Bisajadi banyak :) Saya pilihkan beberapa diantaranya: Biar Semua Hilang, Bias Sinar, Mata Lelaki, Uang, dan Remang-remang Dirimu.

Simak juga videonya :)

Rabu, 03 November 2010

Dian Pramana Poetra, sang penyanyi jazz kita


Dekade 80-an dapat dibilang sebagai masa keemasan Dian Pramana Poetra. Begitu banyak lagu yang beredar pada masa ini adalah ciptaannya, baik dinyanyikan sendiri, bersama Deddy Dukun (2D), K3S, dan 7 Bintang, atau dibawakan penyanyi lain seperti Vina Panduwinata, January Christy, dan Malyda.

Awalnya adalah Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) Prambors 1980 ketika lagu karya Dian masuk 10 Tembang Cantik. Saat itu ia diminta untuk menyanyikan sendiri lagu tersebut. Meski tidak pernah yakin akan kemampuannya bernyayi, Dian setuju saja disuruh menyanyi. Ternyata keraguannya tidak beralasan. Pria yang lahir dari pasangan penyanyi keroncong ini pun diakui sebagai penyanyi dan menyemarakkan blantika musik Indonesia 80-an.

Dian telah mengakrabi dunia musik sejak ia belia. Bukan saja karena sering mendengar ayah ibunya berlatih menyanyi dan memainkan gitar, tapi karena ia juga gemar mendengarkan lagu-lagu standar seperti Nat King Cole, Mat Monroe, dll.

Pada masa SMA Dian bergabung dengan vokal grup sekolahnya (SMAN 37 Jakarta). Bersama Boures Vokal Grup inilah Dian sangat aktif mengikuti festival VG dan kerap jadi juara pertama. Tak ayal, VG inipun jadi langganan tampil di TVRI sepanjang tahun 1978-79. Di VG ini Dian tak hanya menyanyi tapi ia juga mengaransemen lagu-lagu yang akan dibawakan.

Disinilah kemampuannya bermusiknya semakin terasah karena ia harus mempelajari harmoni vokal dan not. Dari situ Dian mulai terpikir untuk membuat lagu hingga berhasil lolos dalam LCLR, ajang yang semakin mengakarabkannya dengan Bagoes AA yang dikenalnya saat aktif di VG.

Adalah Billy J. Boediardjo, nama yang kemudian sangat berpengaruh terhadap karir bermusik Dian. Pria kelahiran Medan, 5 April 1962 ini bukan hanya belajar musik pada Billy namun juga mendapatan kesempatan untuk masuk dapur rekaman. Album pertama Dian bertajuk Indonesian Jazz Vokal di bawah perusahaan rekaman Jackson Record. Saat menggarap album inilah ia bertemu dengan Deddy Dhukun.

Diantara saat menggarap albumnya sendiri, Dian berkolaborasi dengan Bagoes AA dan Deddy Dukun (K3S). Pada masa ini ia juga berhasil membuat album solo ketiga bertajuk Kau Seputih Melati yang sekaligus menjadi lagu kojo dari album yang sempat menuai kritik tersebut. Kemudian berdua dengan Deddy Dukun ia membentuk 2D yang berhasil memunculkan imej nama Dian identik dengan Deddy Dhukun. Sebab tak hanya dalam 2D dan K3S mereka bekerja sama namun juga dalam menggarap album penyanyi-penyanyi lain.

Lagu-lagu Dian PP yang cukup dikenal publik antara lain Gadis Di Cafetaria, Melati Di Atas Bukit, Gelisah, Kubawa Serta, Paseban Cafe dan Papa Sayang Mama.

Senin, 18 Oktober 2010

Iwan Fals, sang pengelana jalanan



Bicara lagu Indonesia 80-an tidak akan afdol tanpa menyinggung penyanyi bernama lengkap Virgiawan Listanto ini. Sejak kemunculannya pertama kali ia dikenal dengan lagu-lagunya yang bernuansa humor satir seperti Oemar Bakri, Surat Buat Wakil Rakyat, atau Sugali. Ia juga menulis dengan bagus peristiwa dan tokoh seperti pada Ethiopia, 1910, Ibu, dan Bung Hatta. Sementara lagu-lagu cintanya pun terdengar berbeda dibandingkan dengan lagu-lagu cinta pada masa itu. Tengok saja lagu Buku Ini Aku Pinjam, Aku Sayang Kamu, atau Yang Terlupakan.

Lagu-lagu Iwan Fals akrab di telinga. Kita bisa temui di arena demo mahasiswa karena lirik kritisnya masih up to date untuk dikumandangkan di masa bahkan jauh setelah lagu-lagu itu populer untuk pertama kalinya. Lagu-lagunya juga sering kita jumpai di terminal-terminal atau kendaraan umum dibawakan oleh penyanyi jalanan alias pengamen. Barangkali karena karena pengalamannya menjadi orang jalananlah yang menjadikannya semacam patron bagi para pengamen. Iwan mengaku dibesarkan di jalanan. Ia ngamen sejak masih sekolah di bangku SMA Bandung, dari rumah ke rumah, dari restoran ke restoran, dari warung tenda ke warung tenda, dari pasar ke pasar. Berbekal gitar dan harmonika ia mengamen tak pilih-pilih tempat. Dilarang keras mengamen oleh kedua orang tuanya, Iwan jalan terus bahkan ketika ia sudah sukses menjadi penyanyi. Ia baru berhenti mengamen ketika anak keduanya ,Cikal Rambu Basae lahir tahun 1985.

Pada periode 80-an Iwan Fals terhitung produktif. Tiap tahun ia mengeluarkan album bahkan ada yang lebih dari satu album. Mulai dari Opini (1982), Wakil Rakyat (1982), Sumbang (1983), Barang Antik (1984), Sugali (1984), Sore Tugu Pancoran (1985), Tampomas, Nenekku Okem, Ethiopia (1986), Aku Sayang Kamu (1986), Lancar (1987), 1910 (1988) hit Buku Ini Aku Pinjam, Antara Aku dan Bekas Pacarmu (1989), Mata Dewa (1989). Selain itu ia juga berkolaborasi dengan penyanyi dan musisi lain seperti KPJ (Kelompok Penyanyi Jalanan), Swami, dan Kantata. Ia juga sempat membuat rekaman bersama Jockie Suryoprayoga dan Vina Panduwinata serta bersama Rafika Duri.


Lihat juga yang ini: 22 Januari (Sarjana Muda-1981)

Minggu, 03 Oktober 2010

Andi Meriem Mattalatta, mutiara cantik dari Ujung Pandang





Si cantik dari Ujungpandang. Tak salah lagi, Andi Meriem Mattalatta. Penyanyi satu ini selain cantik juga dikenal dengan sikap santunnya, dalam berbusana maupun bertutur kata dan kesederhanaannya. Tak heran kalau banyak yang merasa kehilangan begitu dikabarkan ia meninggal dunia pada 4 Juni 2010 lalu.

Nama lengkapnya Andi Sitti Meriem Nurul Kusumawardhani Mattalatta. Lahir pada 31 Agustus 1957 dari keluarga berada.
Ayahnya, Mayjen (purn) Andi Mattalatta adalah orang yang terpandang di Sulawesi Selatan. Ia memiliki andil besar dalam pembangunan Stadion Mattoanging Makassar dan pengembangan dunia olahraga di Sulawesi Selatan. Namanya diabadikan sebagai nama stadion Sulsel tersebut, yaitu Stadion Andi Mattalatta Mattoanging, Makassar. Penyanyi Indonesia 80-an melewati masa kecil dan sekolahnya di tanah kelahirannya, Makasar. Ia mulai menyanyi ketika masih duduk di kelas 5 Sekolah Dasar. Pada tahun 1970 berhasil mendapatkan posisi juara I lomba menyanyi pop se-Ujungpandang. Kemudian ia masuk sebagai 10 finalis dalam lomba nyanyi pop se-Indonesia di tahun 1973. Namun nama Andi Meriem mulai muncul ke permukaan dunia musik nasional setelah tampil dalam rekaman pertamanya Mutiara Dari Selatan ciptaan Iskandar. Nama ini disebut-sebut sebagai guru Andi Meriem dalam seni suara.

Setelah hijrah ke Jakarta dan masuk dapur rekaman, banyak musisi dan penyanyi tanah air yang ambil bagian seperti
Fariz RM pada lagu Hasrat dan Cinta, Dadang S Manaf untuk lagu Hasrat yang dinyanyikannya duet Bob Tutupoly, juga Oddie Agam yang menulis beberapa lagu untuknya seperti Lenggang Jakarta. Nama-nama lain seperti Guruh Sukarno Putra Ryan Kyoto, Junaedi Salat, Sam Bimbo, dll turut memberikan andil dalam penggarapan album-album Andi Meriem dan menyuguhkan lagu-lagu yang cukup akrap di telinga kita seperti Bimbang, Januari Yang Biru, Janji, Rela, dan Lembah Biru. Lagu-lagu melow namun tidak terkesan cengeng. Sayangnya suara yang lembut mendayu itu tidak akan kita dengar lagi muncul dengan lagu baru.

Selasa, 21 September 2010

Utha Likumahua, aku tetap cinta


Dia menjadi salah satu kekayaan Indonesia dalam bidang musik. Utha Likumahua, laki-laki yang datang dari gudangnya penyanyi bersuara emas, Ambon ini telah terjun ke dunia tarik suara sejak dekade 70-an. Sejumlah hits telah dilahirkan oleh penyanyi Indonesia era 80-an ini, seperti 80-an seperti Aku Tetap Cinta, Masih Ada Waktu, Akira, Adakah, Biru Selintas Rindu, Esok Kan Masih Ada, dan Puncak Asmara. Kini Utha memilih lebih banyak aktif dalam pelayanan Tuhan.

Minggu, 05 September 2010

Atiek CB, anak band Child Brothers


Dia dikenali dengan kaca mata hitam dan poni yang dibiarkan menutupi wajahnya ketika bernyanyi. Yup, dialah Atiek Prasetyawati, penyanyi Indonesia 80-an asal Kediri, Jawa Timur yang sudah mengasah vokalnya sejak usia belasan tahun. Selain mengisi acara di TVRI Surabaya, Atiek juga menjadi vokalis band lokal, CB (Child Brothers) Band dan menobatkan namanya menjadi Atiek CB. Dalam program Zona 80 Metro TV , Atiek juga menceritakan tentang sejarah kacamatanya. Rupanya trade mark kacamata itu berawal saat pemotretan album Transisi. Farid Harja yang sedang di lokasi meminjaminya kaca mata. Alhasil sejak saat itu kacamata tidak pernah lepas dari wajah Atiek di panggung.

Sejak hijrah ke Jakarta Atiek berhasil menelurkan sejumlah album, baik solo, grup (Rumpies), maupun kolaborasi (7 Bintang). Lagu-lagunya yang terkenal pada era 80-an antara lain: Ilusi Pagi, Optimis, Terserah Boy, Risau, Bebaskan, dan Antara Anyer dan Jakarta.

Setelah berpisah dengan suaminya, Ronny Sianturi, salah satu personil dari grup musik Trio Libels, Atiek CB hengkang
ke negeri Paman Sam, menikah dan tinggal di sana bersama suami keduanya serta anak-anaknya.

Klik juga disini